Pengajian Targhib Ramadhan Abrori / 11-May-2018 20:05:27

UM Pontianak dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan mengadakan pengajian. Mengingat Ramadhan tinggal menghitung hari. Pengajian ini rutin diadakan setiap menjelang Ramdhan. acara ini mengangkat tema “Targhib Ar-Rahman Fi Shiyami Ramadhan”. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Lantai 3 UM Pontianak. Acara ini menghadirkan narasumber Dr. H. Harjani Hefni, Lc, MA.  Turut hadi dalam acara tersebut antara lain Rektor, Wakil Rektor 1 dan 2, para Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, Dosen dan staff di lingkungan UM Pontianak. Adapun tujuan acara ini adalah untuk menjalin silahturahmi dan menyambut bulan Rahmadhan dengan penuh semangat mengejar amal kebaikan.

Dr. H. Harjani Hefni, Lc, MA mengatakan “Bulan Rahmadhan sebetulnya tidak istimewa, namun menjadi istimewa karena diturunkannya Al-Quran. Ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan beliau mana duluan antara Alquran atau puasa yang turun ke bumi? Jawabannya adalah Alquran. Segala sesuatu yang bersentuhan dengan Alquran akan menjadi mulia yaitu bulan Rahmadhan.  Karenanya kita wajib untuk memuliakan rahmadhan dengan memperbanyak amal ibadah. Allah mewajibkan sesuatu amalan, maka Allah akan menyukai amalan itu dan ini tidak semua orang bisa melakukan. Puasa haruslah fokus pada tujuan untuk beramal ibadah, sehingga ketika kita puasa jangan sampe gagal fokus”. Terangnya

Lebih lanjut beliau mengatakan “Taqwa adalah kemampuan kita untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya-Nya, dengan taqwa akan melindungi kita dari api neraka. Menurut para ulama ketaqwaan kita mudah sekali goyang karena uang, sehingga dengan adanya bulan puasa ketaqwaan kita bisa diobati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Jangan mau sia-siakan kesempatan untuk beribadah yang Allah berikan pada bulan rahmadhan. Islam mengkategorikan orang beriman ada 3 golongan yaitu, pendosa, pertengahan dan melekasakana perintah Allah.

Dalam pengajian tersebut Ibu otik dosen Fikes menanyakan terkait “Bagaimana jika orang tua yang sudah meninggal karena sakit, tetapi awalnya berniat untuk berpuasa, namun dia tidak jadi puasa, siapa yang bayar puasa atau tidak dibayar?

Dr. H. Harjani Hefni, Lc, MA menjelaskan bahwa ”yang berkewajiban untuk membayar puasa atas meninggalnya orang tua tersebut adalah anaknya dengan Fidiyah. Fidiyah adalah memberi makan orang miskin yang telah ditentukan. Selain itu, orang hamil dan menyusui tidak wajib puasa tetapi diganti dengan Fidiyah. Sedangkan kalau anak yang di tinggal masih kecil bisa di wakili dengan keluarganya”. Kontributor Henri

Akreditasi Institusi
Dan Program Studi

Selengkapnya

Mahasiswa Baru
UM Pontianak

Informasi Pendaftaran