Menyiapkan Slide

Budidaya Laut Keberlanjutan Pendekatan Ekonom Biru Abrori / 25-Apr-2018 19:04:36

Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UM Pontianak baru-baru ini mengadakan kuliah umum. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 April 2018. Acara ini mengangkat tema “Budidaya Laut Keberlanjutan Pendekatan Ekonom Biru”. Kuliah umum ini dihadiri 191 mahasiswa dari prodi Budidaya Perairan FPIK dan perwakilan seluruh program studi yang ada di lingkungan UM Pontianak. Kegiatan ini sendiri dilaksanakan di Aula Utama UM Pontianak Jalan A Yani 111 Pontianak. Pembicara pada kegiatan ini adalah Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Prof. Dr. Ir. Yusni Ichwan Siregar, M.Sc, Wakil Dekan FPIK Farida, S.Pi.,M.Si dan  Eko Prasetyo S.Pi., M.P. dari Prodi Budidaya Perairan FPIK UM Pontianak

Tujuan kuliah umum ini adalah untuk menambah wawasan mahasiswa mengenai peluang wira usaha khususnya bisnis pada  bidang budidaya perairan. Baik budidaya perairan di air tawar ataupun di air asin. Sehingga nantinya diharapkan pada mahasiswa bisa menciptakan lapangan kerja.

Wakil Dekan FPIK UM Pontianak Farida, S.Pi., M.Si dalam sambutannya mengatakan “potensi budidaya perairan di Kalimantan Barat cukup tinggi mengingat kekayaan di bumi borneo belum banyak dimanfaatkan secara maksimal, bersyukur kita kedatangan tamu yang paham akan ilmu budidaya perairan. Beliau datang jauh dari Riau. Jika kita tidak memaksimalkan waktu, kesempatan dan menggali ilmunya saat ini, kapan lagi? Mengingat mendatangkan beliau cukup susah dan antrinya cukup panjang. Siapa tahu di antara mahasiswa yang datang pada kuliah umum hari ini ingin membuka bisnis bidang budidaya perairan. Inilah saat tepat menimbu ilmunya”. jelasnya

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Prof. Dr. Ir. Yusni Ichwan Siregar, M.Sc mengatakan “Budidaya perairan air laut mau pun air tawar harus mempertimbangkan beberapa aspek yaitu, ekonomi yang menguntungkan, ramah lingkungan, adaptasi, pemilihan lokasi, inovasi baru, hukum-hukum fisika, dan teknologi yang ramah lingkungan. Perlu diingat, teknologi laut saat ini berkembang sangat pesat, jika tidak diimbangi dengan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Hal ini, akan berdampak pada kerusakan ekosistem”. Jelasnya

Lebih lanjutnya beliau mengatakan “Di Riau tambang air tawar sekarang menjadi pilihan untuk memulai berbisnis. Hal ini disebebabkan nilai jual ikan air tawar di sana lebih mahal di bandingkan dengan ikan air laut. Kalau pun budidaya air laut, di sana hanya budidaya kepiting soka. Kepiting soka dipilih karena cangkang dari kepiting soka sangat lembek dan peminatnya sangat banyak sampai ke luar negeri. Sedangkan untuk berbisnis bidang budidaya perairan di Kalimantan Barat ini mungkin sudah dilakukan namun banyak masalah yang dihadapi seperti halnya, persoalan air laut yang tercemar minyak dari kapal besar, kadar garam dan kejernihan air laut”. Terangnya

Akreditasi Institusi
Dan Program Studi

Selengkapnya

Mahasiswa Baru
UM Pontianak

Informasi Pendaftaran