Menyiapkan Slide

Sistem Ekonomi Islam: Sistem Bagi Hasil dan Bagi Risiko Abrori / 08-Dec-2017 08:12:23

Beberapa saat yang lalu UM Pontianak kedatangan tamu, beliau adalah Marzuki Usman (deklarator IMM). Beliau memberikan kuliah umum dengan mengangkat tema “peran dan tantangan kepemimpinan mahasiswa dalam MEA menuju indonesia berkemajuan dan berkeadilan”.

Anak keempat dari sembilan bersaudara pasangan H. Usman Abul dan Cholijah ini dikenal gigih dan pantang menyerah. Pria yang lebih banyak menghabiskan masa kecilnya untuk mencari uang dari tumpangan perahu di Sungai Batanghari ini lebih tertarik menjadi dokter gigi. Sayangnya ia tidak lulus tes, dan membuatnya terpaksa masuk Fakultas Ekonomi di Universitas Gajah Mada.

Setelah meraih gelar sarjana tahun 1969, Usman mengambil gelar master di University of the Philippines.  Karirnya terus berlanjut. Suami Aswarni yang menikah tahun 1972 ini dipilih menjadi Kepala Badan Analisa Keuangan dan Moneter Departemen Keuangan (1995-1998). Jabatan ini tidak lama. Masa pemerintahan Presiden Habibie, Marzuki diangkat lagi sebagai Menteri Pariwisata. Kemudian menjadi Menteri Negara Investasi/Kepala BKPM. Di samping itu ia juga menjadi Menteri Perhubungan ad interim dan Menteri Kehakiman ad interim. 23 Oktober 2000 - 22 Juli 2001, Marzuki diangkat Presiden Abdurahman Wahid sebagai Menteri Kehutanan RI ke-7 menggantikan Nur Mahmudi Ismail.

Marzuki juga pernah menjadi dosen di UGM dan UI. Beliau penggagas Sistem Ekonomi Islam. Dalam makalah beliaunya dikatakan bahwa sistem ekonomi Islam tidak mengenal atau diperkenalkan adanya bank sebagai lembaga pembiayaan. Kenapa? Karena ia tidak bisa menjual dan memperoleh keuntungan dengan membuat atau mengadakan barang-barang public itu. Jadi, pada prinsipnya, pada sistem ekonomi terkumpul dana yang besar sekali, yang dikelola oleh Baitul Mal, tanpa adanya bunga dan interest margin yang harus dibayar kepada sipemilik dana. Adapun sistem pembiayaan kegiatan ekonomi kepada para pengusaha, adalah sistem bagi hasil dan bagi risiko, yang telah disepakati oleh pengusaha dan  Baitul Mal. Pekerjaan barang-barang public (public goods) semuanya dibayar oleh Baitul Mal, dan Dana sedekahnya melimpah ruah sehingga bisa membiayai pembangunan infra-struktur diseantero bumi Indonesia.


Akreditasi Institusi
Dan Program Studi

Selengkapnya

Mahasiswa Baru
UM Pontianak

Informasi Pendaftaran