Emansipasi Wanita dari ‘Sopo Tresno’ Abrori / 25-Aug-2017 11:08:57

Pontianak, 24/8/17 civitas akademika UM Pontianak mengadakan nonton bareng kisah perjuangan pahlawan nasional Walidah Dahlan atau yang kerap dikenal Nyai Ahmad Dahlan. Film yang disutradarai Ola Atta Adonara ini mengangkat kisah perjuangan tokoh emansipasi wanita dari Kauman, Yogyakarta. Kegiatan nonton bareng ini diprakarsai oleh Pengurus Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat, dimotori oleh Nasyiatul Aisyiyah dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang didukung oleh Organisasi Otonom Muhammadiyah dan Amal Usaha Muhammadiyah se-Kalbar.

Antusias begitu tinggi seperti Ufi Ruhamah dari Nasyiatul Aisyah mengatakan “bahwa film ini sangat menginspirasi bagi kader untuk tetap istiqamah dalam berda`wah. Jika seorang Kyai Dahlan sanggup untuk mengorbankan diri sebagian harta bahkan nyawanya untuk berjuang membasmi tahayul, bid`ah dan khurafat. Tidak kalah dengan sang Kyai, Nyai Dahlan juga demikian, siap untuk menginfakkan dirinya untuk da`wah memperjuangkan hak-hak perempuan. Satu hal bahwa film tersebut, menjadi sebuah motivasi bagi kita, apa yang sanggup kita berikan untuk Muhammadiyah khususnya dan Islam pada umumnya” pungkasnya.

Berbeda dengan Ufi, Indah Budiastutik Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UM Pontianak berpendapat bahwa film tersebut “sangat menyentuh hati dan bisa dijadikan tauladan yang baik buat kita terutama kaum perempuan dalam berdakwah di jalan Allah SWT, begitu syarat ujian dan perjuangan Kyai dan Nyai Dahlan. Mereka dengan ikhlas hati mewakafkan dan mensedekahkan harta dan bendanya di Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai jalan dakwah dalam meningkatkan pendidikan, ilmu dan derajat perempuan di jaman penjajahan”.Ungkapnya

Sementara Denie Amiruddin dosen Fakultas Hukum UM Pontianak mengatakan bahwa “Film Nyai Ahmad Dahlan sangat menginspirasi khususnya kaum perempuan yang tetap memberikan semangat kepada suaminya yang berjuang di jalan Allah dan menegakan kebenaran. Film ini penuh dengan pesan moral bahwa sesungguhnya perempuan tidak harus meninggalkan kodrat keperempuanannya demi kesetaraan gender. Menonton film Nyai Ahmad Dahlan betapa kita sadar bahwa sesungguhnya pahlawan emansipasi wanita itu adalah Nyai Ahmad Dahlan yang pada jamannya telah rela berkorban, harta benda, waktu demi kemajuan kaum perempuan pada saat itu”. Terangnya

Berbicara film tersebut sangat menarik mengingat banyak melibatkan hampir semuanya berasal dari keluarga Muhammadiyah. Namun untuk tokoh utama masih diduduki posisi bintang film ternama yakni Tika Bravani sebagai Nyai Ahmad Dahlan. Nyai Ahmad Dahlan termasuk tokoh emansipasi, penolak kawin paksa dan merupakan perempuan pertama yang pernah memimpin Kongres Muhammadiyah pada 1926. Walidah meninggal 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman. Pemberian gelar Pahlawan Nasional di zaman Presiden Soeharto, bukan semata-mata karena Walidah adalah istri KH Ahmad Dahlan. Namun Walidah yang dilahirkan pada 1872, juga pendiri gerakan perempuan ‘Sopo Tresno’ yang kemudian bernama Aisyiyah. Abrori

Akreditasi Institusi
Dan Program Studi

Selengkapnya

Mahasiswa Baru
UM Pontianak

Informasi Pendaftaran