Pemahaman&Pengetahuan Pelaku Industry Cincau Tentang Hygiene Makanan

  07-Sep-2018 16:09:38     abrori
Click pada image untuk tampilan penuh

Cincau hitam merupakan bahan makanan olahan yang menjadi pilihan masyarakat Kota Pontianak. Cincau digunakan untuk dicampurkan pada berbagai olahan seperti es campur, es teler, capucino cincau dan lain sebagainya. Pada bulan ramadhan makanan ini merupakan favorit yang selalu dijajakan sebagai hidangan saat berbuka puasa. Sebagian besar cincau hitam dijajakan oleh industri olahan rumah tangga di Kota Pontianak.

Kegiatan PKM ini bertujuan untuk melakukan upaya komprehensif pada industry cincau. Model kegiatan ini dilakukan melalui pelatihan quality qontrol mandiri dengan mengenalkan tentang Hazard analysis critical control point(HACCP). Tidak berhenti pada pelatihan itu saja peserta juga diberikan pemahaman tentang prosedur pembuatan IRT, pengemasan produk cincau, dan selanjutnya memberikan pendampingan untuk mengupayakan pemasaran cincau kepada pangsa pasar yang baru yaitu gerai minimarket maupun supermarket.

Andri Dwi Hernawan mengatakan “jumlah pengusaha cincau hitam di Kota Pontianak cukup banyak. Industri rumah tangga yang cukup besar dengan kapasitas produksi minimal 1000 buah perhari, seluruhnya dipasarkan di pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Pontianak. Survei yang pernah dilakukan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan beberapa cincau hitam diproduksi dengan menggunakan bahan pengawet (formalin) dan mengandung bahan pengenyal (boraks). Dari informasi ini disinyalir bahwa pemberian boraks dan formalin pada cincau hitam dikarenakan makanan olahan ini tidak dapat bertahan lama sehingga para produsen memberi tambahan bahan pengawet agar cincau bisa bertahan lebih lama. Selain itu hampir semua jenis cincau ini dipasarkan tanpa memperhatikan hygiene makanan, yaitu dijual tanpa dikemas sehingga berisiko terjadi paparan bahan kimia maupun bakteri pada saat pendistribusian dan pemasarannya” terangnya

Sementara Fenni Supriadi, S.E, MM selaku anggota PKM mengatakan “Kegiatan ini dilakukan beberapa kali pada pelaku industry cincau. Hasil pelatihan setidaknya berdampak sebagai berikut; pemahaman dan pengetahuan pelaku industry cincau tentang hygiene makanan meningkat. Ini terbukti dari penilaian awal ketidakpedulian tentang potensi paparan kimia dan mikrobiologi disaat awal. Setelah kegiatan dilakukan beberapa peserta mengalami perubahan antara lain kesadaran untuk menciptakan hygiene makanan lebih bagus. Meskipun dalam beberapa hal masih belum maksimal di antaranya penggunaan soda mie yang tidak sesuai takaran dan pencetakan cincau yang masih dilakukan di atas lantai. Ketertarikan terhadap pangsa pasar baru di gerai minimarket dan supermarket juga nampak setelah dilakukan pelatihan pengemasan serta prosedur pengurusan ijin IRT produk. Namun, hal ini perlu difasilitasi lebih lanjut untuk melakukan pendampingan pengurusan produk IRT ke dinas kesehatan karena sebelum mendapatkan IRT pelaku usaha cincau harus mendapatkan pelatihan terlebih dahulu” Pungkasnya

Upaya pengabdian selanjutnya dapat dilakukan dengan menggandeng pelaku industry retail supermarket untuk berkolaborasi dengan pelaku industry kecil cincau hitam dalam menyediakan stok cincau di gerai supermarket. Sektor pemerintah juga perlu dilibatkan untuk lebih serius melakukan pemantauan keamanan pangan industry cincau hitam pada wilayah yang lebih luas dan secara kontinyu melakukan pengawasan rutin untuk usaha cincau di wilayah lainnya.

Jl. Ahmad Yani No. 111 , Pontianak, Kalimantan Barat
(0561) 764571 - Faks. (0561) 764571
[email protected]
SOSIAL MEDIA
© Major Update 2017 - Dev. ICT UM PONTIANAK  
" carved with bare hand " - [email protected] Custom Site/App Builder. Achmad Albaar