Pangan Halal dalam Perspektif Islam dan Sains Abrori / 03-Jun-2018 15:06:10

Fakultas Ilmu Kesehatan UM Pontianak pada Ramadhan ini mengadakan kuliah umum tentang sertifikasi halal yang bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalimantan Barat. Sertifikat Halal MUI adalah fatwa tertulis MUI yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam. Sertifikat Halal MUI ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang. Adanya sertifikasi Halal MUI pada produk pangan, obat-obat, kosmetika dan produk lainnya dilakukan untuk memberikan kepastian status kehalalan, sehingga dapat menenteramkan batin konsumen dalam mengkonsumsinya. Kesinambungan proses produksi halal dijamin oleh produsen dengan cara menerapkan sistem jaminan halal. Pada kegiatan ini, adapun tema yang diangkat adalah “Sandang dan Pangan Halal dengan Perspektif Islam dan Pengetahuan Bersama Direktorat LPPOM-MUI Kalimantan Barat - Program Studi Kesehatan Masyarakat UM Pontianak”. Acara ini diikuti mahasiswa Semester 4 Program Studi Gizi Kesmas dan Kesling Fikes. Adapun narasumber dalam kegiatan ini dari Direktorat LPPOM-MUI Kalimantan Barat Dr. M. Agus Ariwibowo, M.Si dan Hermanto, M.Pd.I dari AIK UM Pontianak. Pada kegiatan tersebut dihadiri Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, Sekretaris Prodi dan para dosen yang ada Fikes UM Pontianak. Adapun tujuan kegiatan ini untuk memberi pemahaman kepada mahasiswa mengenai produk halal dan haram yang ada di pasar.

Dekan Fikes Dr. Linda Suwarni, SKM., M.Kes dalam sambutannya mengatakan “Kuliah umum ini sangat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi mahasiswa yang sering belanja ke Supermaket. Ketika kita belanja di Supermarket, sering kali kita lupa untuk melihat lebel halal suatu produk. Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita harus memperhatikan ke-halalan suatu produk, agar yang kita konsumsi berdampak baik bagi diri kita sendiri”. Jelasnya

Direktorat LPPOM-MUI Kalimantan Barat Dr. M. Agus Ariwibowo, M.Si mengatakan “Saat ini, sebuah produk yang ingin di ekspor keluar negeri harus memiliki sertifikat halal untuk menghindari syubhat, bahkan ke negara non muslim, salah satunya produk ikan yang harus memiliki sertifikat halal walaupun sudah di halalkan dalam HR. Bukhari dan Muslim. Pandangan halal dan haram telah tercantum di surah Al-Baqarah: 168 dan 172. Makanan dan minuman yang di haramkan telah tercantum di surah Al-Baqarah: 173, Al-Maidah: 3, Al-An’am: 145, An-Nahl: 115 tentang bangkai, darah, daging babi, hewan yang di sembelih tanpa menyebut nama Allah, dan Al-Maidah: 90-91 tentang Khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah”. Jelasnya

Beliau menambahkan “Kita pernah di gemparkan kasus makanan yang mengandung lemak babi di suatu produk. Sehingga Komisi Fatwa majelis Ulama Indonesia menyimpulkan bahwa semua produk olahan pada dasarnya adalah syubhat. Oleh karena itu, diperlukan kajian dan penelaahan sebelum menetapkan status halal haramnya suatu produk. Hal ini, dilakukan untuk menentramkan batin umat Islam dalam mengkonsumsi suatu produk. Memakan makanan halal itu tanda ketakwaan seorang muslim dan memakan makan haram itu merupakan perbuatan maksiat”. Ungkapnya

Akreditasi Institusi
Dan Program Studi

Selengkapnya

Mahasiswa Baru
UM Pontianak

Informasi Pendaftaran